Pariwara

Gagal Dinas Militer Malah Menerima Nobel Sastra

TRAVELLER BOY -  Lakon hidup seringkali memang sulit ditebak. Dari yang tadinya di bawah tiba-tiba naik ke atas atau sebaliknya. Tak terkecuali mereka yang menjadi peraih nobel sastra. Di dunia yang setiap hari berteman kata dan kalimat. 

Mendapat nobel di bidang Sastra merupakan pencapaian tertinggi bagi para insan sastra di seluruh dunia. Selain itu bagi mereka yang mendapat nobel tersebut tidak hanya dinilai dari kualitas dan tata penulisannya saja, tapi juga dilihat seberapa besar pengaruh tulisan tersebut, baik bagi dunia sastra maupun sistem sosial, budaya, bahkan politik pada masanya.

Umumnya, mereka yang medapat nobel bidang sastra ini rata-rata memiliki kepribadian dan kehidupan yang unik punya. Mungkin beberapa fakta berikut bisa menjadi gambaran kecil seperti apa sih orang-orang yang mendapat nobel tersebut:

Rabindranath Tagore

Tidak ada orang India yang tidak mengenal Rabindranath Tagore, seorang penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Bengali. Ia terlahir dalam keluarga yang tinggal di wilayah Bengali, daerah di anak benua India antara India dan Bangladesh. Tagore merupakan orang Asia pertama yang mendapat anugerah nobel dalam bidang sastra (1913). 

Memiliki pengaruh yang sangat luar biasa, tidak hanya di India saja, tapi juga meluas hingga ke Eropa. Banyak karya-karya sastra beliau diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dan percaya atau tidak, nama Rabindranath Tagore diabadikan di salah satu ruas jalan di kota Surakarta.

Pandangan Tagore soal pendidikan ternyata mempengaruhi sejumlah tokoh nasional, salah satunya adalah Ki Hajar Dewantara.

Ernest Miller Hemingway

Salah satu penulis paling jenius yang pernah lahir pada abad ke-20 adalah Ernest Miller Hemingway. Karya tulisnya yang paling fenomenal adalah trilogi besar yang terdiri dari The Sea When Young, The Sea When Absent dan The Sea in Being (yang belakangan akhirnya terbit pada 1952 dengan judul The Old Man and the Sea). Untuk salah satu triloginya, The Old Man and The Sea sukses meraih Penghargaan Pulitzer di Amerika tahun 1953 dan nobel di bidang sastra tahun 1954. 

Namun kisah hidupnya yang paling dikenang adalah nasib sial yang selalu menderanya. Dia pernah mengalami luka-luka dalam dua kecelakaan pesawat terbang secara berturutan. Luka-luka Hemingway sangat serius; bahu kanannya, lengan dan kaki kirinya keselo, ia mengalami gegar otak yang parah, untuk sementara waktu kehilangan daya penglihatan mata kirinya (dan daya pendengarannya di telinga kiri), mengalami kelumpuhan sphincter, tulang belakang, yang remuk, liver, spleen dan ginjal, dan yang robek, serta mengalami luka bakar pada tingkat pertama di wajah, kedua lengan dan kakinya. 

Ia luka parah sebulan kemudian dalam sebuah kecelakaan kebakaran semak, yang membuat ia mengalami luka bakar pada tingkat kedua pada kedua kakinya, dada, bibir, tangan kiri dan bagian atas lengan kanannya. 

Akhirnya pada tanggal 2 Juli 1961 dia menembak kepalanya sendiri dan langsung mampus, mirip apa yang dilakukan oleh ayahnya, Clarence, yang mati dengan cara yang sama.

Samuel Barclay Beckett

Bila Jean-Paul Sartre menolak hadiah nobel tahun 1964, Samuel Barclay Beckett, penulis lakon Menunggu Godot (Waiting for Godot), tidak menolak hadiah itu tetapi tidak mau menghadiri upacaranya di tahun 1969. Ia juga menolak membuat pidato. 

Karya Menunggu Godot (Waiting for Godot) dinilai layak mendapat nobel karena dianggap sebagai lakon yang sangat religius: pengharapan yang tidak pernah punah. 

Kepada sekretarisnya, Beckett minta agar ia mengirim sederetan nama-nama teman-teman seniman lengkap dengan nomor rekening mereka. Seluruh jumlah hadiah itu dibagi-bagikan kepada teman-temannya. Becket sendiri tidak sepeser pun menggunakannya.

Boris Leonidovich Pasternak

Salah satu penyair dan penulis besar yang pernah dimiliki Rusia adalah Boris Leonidovich Pasternak. Karya novel epiknya yang sangat terkenal, Dr. Zhivago adalah gambaran sebuah tragedi yang peristiwanya terjadi di seputar masa terakhir Kekaisaran Rusia dan hari-hari awal Uni Soviet. 

Pada Oktober 1958, Pasternak dianugerahi Hadiah Nobel dalam Sastra, untuk pencapaian pentingnya dalam puisi lirik kontemporer dan di bidang tradisi epik Rusia. Pemerintah Uni Soviet, yang sangat tidak senang dengan penggambaran kehidupan yang keras di bawah komunisme dalam tulisannya, memaksanya menolak penghargaan tersebut dan mengeluarkannya dari Persatuan Penulis Uni Soviet. 

Walaupun tak dikirim ke pembuangan atau penahanan, semua terbitan terjemahannya tertunda hingga membuat dirinya jatuh miskin alias kere. Namun, tahukah Anda, bahwa dulu Pasternak pernah mencoba masuk dinas militer dan ditolak karena kakinya panjang sebelah.

Demikian sekilas info seputar tokoh-tokoh sastra penerima hadiah Nobel. Oia, bagi Anda yang ingin menambah wawasan lainnya seputar tanaman misalnya, bisa membaca artikel Fakta Unik Tanaman Kaktus yang ada di blog ini.

Posting Komentar

0 Komentar